Fish (Ikanku)

Kamis, 07 Maret 2013

Contoh PTK



PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PENGGUNAAN METODE JIG-SAW DALAM UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR FIKIH SISWA KELAS VIII. B MTs NEGERI BUMI MULYA


      

Disusun Untuk Memenuhi
Persyaratan Pengajuan DUPAK Kenaikan Pangkat III.c Ke III.d


OLEH: MUHSINUN
NIP:  197604122002121007



KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI BUMI MULYA
TAHUN PEROLEHAN 2008-2012



LEMBAR PENGESAHAN


PENERAPAN  METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI PEMBELAJARAN FIQH KELAS VIII B








KATA PENGANTAR



Puji syukur, Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada mata pelajaran Fiqih kelas VIII B semester ganjil di MTsN Bumi Mulya.
Penelitian Tindakan Kelas ini sebagai rangkaian tugas untuk memenuhi Persyaratan Kenaikan Pangkat dari III,c ke III.d di jajaran Kementerian Agama Propinsi Bengkulu. Dalam penyusunan laporan ini banyak pihak yang telah membantu atas terselesaikannya laporan ini maka penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang membantu pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini.
Atas semua bantuan yang diberikan maka penulis berharap semoga mendapat balasan dan dicatat oleh Allah sebagai amal baik, Amin. Akhirnya dengan segala kerendahan hati maka penulis mengakui bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan pada laporan ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sehingga dapat dijadikan perbaikan pada masa mendatang.

                                                                                                 Bumi Mulya, 26 Januari 2012
                                                                                                 Penulis



                                                                                                 M U H S I N U N
                                                                                                 NIM. 211 302 0167
                                                                       
                                                                       








BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah


Pendidikan memegang peranan penting yang menyangkut kemajuan dan masa depan bangsa, tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa akan maju. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 menyebutkan bahwa: “Pendidikan  Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan Nasional”.
Berhasil atau tidak suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya adalah karena guru. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuan anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Guru harus pandai memilih metode yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Supaya anak didik merasa senang dalam belajar. Dalam proses belajar mengajar bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi pemberian motivasi sangatlah penting karena secara psikologis anak akan merasa senang apabila mereka diperhatikan. Salah satu cara memberikan perhatian adalah dengan memotivasi.
Kesuksesan belajar siswa tidak hanya tergantung pada intelegensi anak saja, akan tetapi juga tergantung pada bagaimana pendidik menggunakan metode yang tepat dan memberinya motivasi. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak didik diantaranya adalah memberi angka atau nilai. Pemberian mulai dilakukan oleh guru ketika mereka selesai ulangan atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Cara ini merangsang anak untuk giat belajar. Anak yang

nilainya rendah, mereka akan termotivasi untuk meningkatkan belajarnya dan anak yang nilainya bagus akan semakin giat dalam belajar. Maka untuk meningkatkan aktivitas dan semangat belajar diperlukan ketrampilan dan kreativitas guru dalam menyampaikan materi yaitu dengan cara penggunaan metode yang tepat dan memotivasi.
Berpijak dari latar belakang di atas maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian pendidikan, dalam hal ini penulis akan mengangkat suatu topik:
“Aplikasi Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan Motivasi Pembelajaran Fiqh Kelas VIII B”

B.     Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan:
1.      Apakah metode Demonstrasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya?
2.      Bagaimana cara metode Demonstrasi diterapkan sehingga dapat memotivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya?

C.    Tujuan Penelitian


Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka penulis akan merumuskan penelitian ini dengan tujuan sebagai berikut:
1.      Mempelajari apakah metode Demonstrasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya.
2.      Mempelajari bagaimana metode Demonstrasi diterapkan sehingga dapat memotivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya

D.    Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama, khususnya pada KBM mata pelajaran Fiqih di kelas VIII B MTsN Bumi Mulya Adapun secara detail manfaat yang diharapkan dari penelitian ini di antaranya adalah:
a.      Bagi lembaga (Sekolah)
Penerapan metode demonstrasi ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran dan menjadi pijakan dasar untuk lembaga / sekolah dalam kaitannya menentukan kurikulum dan memberikan kebijakan dalam pengajaran pendidikan agama.
2.      Bagi guru
Penerapan metode ini, diharapkan dapat memberikan masukan kepada para guru, khususnya guru pendidikan agama, agar tidak begitu otoriter dan monoton dalam mengajar, dengan menggunakan metode demonstrasi dalam KBM di kelas, guru pendidikan agama bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan segala materi Fiqih agar siswa betul-betul memahaminya dan benar dalam pelaksanaan di kehidupan sehari-hari.
3.      Bagi siswa
Dengan metode Demonstrasi ini diharapkan siswa lebih termotivasi dalam belajar. Terutama dalam pelajaran Fiqih yang memang membutuhkan praktek dalam penerapannya.
4.      Bagi penulis
Memberi manfaat bagi peneliti dan menambah khazanah keilmuan sebagai bekal menjadi guru yang profesional kelak serta mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menangkap pelajaran yang telah disampaikan.

E.     Hipotesa Tindakan

a.    Dengan penerapan metode demonstrasi maka motivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya akan meningkat.
b.  Dengan menerapkan metode demonstrasi dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran Fiqih siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya.




A.    Motivasi Belajar


Kata “Motif’ diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. “Motif” dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai seuatu tujuan. Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “Motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan dirasa sangat mendesak.

Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak, sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat tumbuh dari dalam diri individu. (instrinsik) dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya (eksternal).

a.         Motivasi Instrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Dalam belajar terkandung tujuan menambah pengetahuan. “Intrinsic motivations are inherent in the learning situation and meet pupil need and purposes”.

b.           Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar diri individu. Apakah karena adanya ajakan, suruhan, paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar.


Untuk dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Berikut ini ada beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam rangka menumbuhkan motivasi intrinsik.
a.       Kompetisi (persaingan, guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajar)
b.      Pace making, pada awal KBM guru hendaknya menyampaikan trik pada siswa.
c.       Tujuan yang jelas untuk mencapai pembelajaran
d.      Mengadakan penilaian/tes, pada umumnya siswa mau belajar dengan tujuan mendapat nilai yang baik (Muh Uzer Usman: 1989, 24-25)

Menurut seorang ahli ilmu jiwa dalam motivasi ada suatu hierarki, yakni motivasi itu mempunyai tingkatan-tingkatan dari bawah sampai ke atas yakni:
1)      Kebutuhan fisiologis
2)      Kebutuhan akan keamanan
3)      Kebutuhan akan cinta kasih
4)      Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri
Tingkat yang di atas hanya dapat dibangkitkan apabila telah dipenuhi tingkat motivasi yang di bawahnya.

Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah:
1)      Memberikan angka / nilai
2)      Memberikan hadiah
3)      Terdapat saingan / kompetisi
4)      Ego-involment
5)      Memberi ulangan
6)      Mengetahui hasil
7)      Memberi pujian
8)      Memberi hukuman
9)      Hasrat untuk belajar
10)  Minat

B.     Pengertian Metode Demonstrasi

Dalam pola pendidikan modern seperti telah diuraikan di atas tampak jelas bahwa murid dipandang sebagai titik pusat sebagai prose terjadinya proses belajar. Siswa sebagai subjek yang berkembang melalui pengalaman belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa membantu dan memberikan kemudahan agar murid mendapatkan pengalaman belajar yang  sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sehingga terjadilah suatu interaksi aktif. Siswa belajar sedangkan guru mengelola sumber-sumber belajar guna memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dala proses belajar mengajar demikian agar membuahkan hasil sebagaimana diharapkan, maka baik siswa maupun guru perlu memiliki sikap, kemampuan dan ketrampilan yang mendukung proses belajar mengajar tersebut, untuk mencapai tujuan tertentu.
Metode Demonstrasi yaitu metode pengajaran dimana guru atau orang lain sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas suatu proses. Sedangkan metode eksperimen adalah metode pengajaran dimana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui. Sedangkan Drs. Imansyah Alipandie dalam bukunya “Didaktik Metodik Pendidikan Umum” menjalaskan metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar yang dilakukan oleh guru atau seseorang lainnya dengan memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu cara melakukan sesuatu.
Kelebihan metode Demonstrasi dalam sistem pembelajaran antara lain:
1)      Siswa dapat menghayati dengan sepenuh hati mengenai pelajaran yang diberikan.
2)      Perhatian anak dapat terpusat pada hal penting yang di demonstrasikan.
3)      Mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan dari apa yang diterangkan guru secara lisan maupum tulisan karena siswa memperoleh gambaran melalui pengamatan langsung perhadap suatu proses.
4)      Masalah yang mungkin timbul dalam hati siswa dapat langsung terjawab.

Sedangkan kelemahan metode demonstrasi adalah sebagai berikut:
1.      Apabila sarana peralatan kurang memadai, tidak sesuai dengan kebutuhan atau tidak bisa diamati dengan jelas oleh para siswa, maka metode ini kurang efektif .
2.           Tidak semua hal dapat didemonstrasikan didalam kelas.
3.      Guru tidak mampu mengontrol sejauh mana siswa memahami uraiannya. (Dra. Roestyah: 1991, 138)

Oleh karena itu untuk mengatasi kelemahan tersebut di samping menggunakan metode Demonstrasi, penulis juga menggunakan motivasi pembelajaran.




A.    Setting Penelitian


Sebagai Madrasah Tsanawiyah Negeri di Bumi Mulya kab. Mukomuko, MTsN Bumi Mulya terus melakukan upaya-upaya pengembangan dan penyempurnaan guna menciptakan suasana kondusif terhdap pembelajaran.
Dalam usianya yang ke 27 (berdiri tahun 1980), madrasah ini telah memiliki hamper semua sumberdaya pendidikan yang dipergunakan. Sarana prasara tersedia cukup lengkap, mulai yang konvensional hingga yang modern termasuk jaringan internet resmi, tenaga pendidiknya mengajar sesuai dengan latar belakang pendidiknya dan kualifikasi sarjana S1, bahkan 07 orang ditaranya telah m,enyelesaikan program di atasnya telah menyelesaikan program magister (S2). Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2004 dan 20006 yang di perkaya dengan kurikulum local guna menghasilkan lulusan yang berkepribadian Islam.
Kondisi seperti itu telah menjadikan MTsN Bumi Mulya sebagai pilihan pertama “sebelum sekolah yang lain. Saat ini madrasah ini telah menjadi “The First Class” bukan “Second Class” bagi masyarakat kab. Bumi Mulya. Hal ini terkait dari berjubelnya penimat calon siswa baru (jauh lebih pagi) setiap  pendaftran siswa baru di buka. Bukan merespon keburukan masyarakat dan upaya mengoptimalakan seluruh kemampuan.

Sumber Daya Pendidikan di MTsN Bumi Mulya meliputi:
1.      Semua guru berkualifikasi sarjana (S1) bahkan Satu orang diantaranya berkwalifikasi magister (S2)  yang mengajar sesuai bidangnya.
2.      Sarana prasarana yang mmenuhi standart pendidikan professional, mulai dari yang konvesional hingga modern (multi media)
3.      Lingkungan madrasah yang asri dan bersih sangat kondusif terhadap pembelajaran.


4.      Manajemen berbasis sekolah (MBS), sehingga dukungan masyarakat sampai baik.


B.     Rencana Tindakan


Dalam tahap ini, peneliti membuat rencana tindakan dalam rangka untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, yang mencakup:
1)      Lokasi penelitian adalah MTsN Bumi Mulya
2)      Kegiatan penelitian dilakukan pada akhir Juli sampai awal September 2007 (tanggal  9 Agustus  sampai 7 September 2007)
3)      Subyek yang terlibat sebagai peneliti adalah guru praktikan yang sedang menjalani PKLI di MTsN Bumi Mulya
4)      Obyek sekaligus Subyek dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah siswa-siswi kelas VIII B MTsN Bumi Mulya
5)      Desain tindakan adalah model Kurt Lewin, yaitu meliputi empat komponen: rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi berdasarkan hasil pengamatan dan tindakan (reflecting).
6)      Alat dan tehnik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a.       Alat yang digunakan: Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rancangan / Skenario Pembelajaran, dan Instrumen.
b.      Tehnik pengumpulan data: Tehnik Observasi dan dokumentasi

Setelah semua prosedur awal tersebut dilaksanakan, maka peneliti tinggal menerapkannya di dalam kelas sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Disini peneliti akan menjabarkan hasil penelitian selama 4 kali tatap muka
Pertemuan I 
I.       Tahap Awal
§   Salam Pembuka
§   Perkenalan dengan siswa dengan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan kedatangan peneliti pada sekolah
§   Absensi
II.    Tahap Inti
§  Peneliti mengadakan apersepsi terhadap murid.
§  Peneliti menerangkan materi materi tentang Sujud Syukur, syarat dan rukunnya.
§  Peneliti memberikan instruksi tentang penugasan yang akan dilakukan dan akan dibahas pada pertemuan selanjutnya
III. Tahap Akhir
§  Peneliti menyuruh menyimpulkan penjelasan dari peneliti secara tertulis.
§  Memberikan contoh atau demonstrasi dan motivasi agar senantiasa mudah melaksanakan serta paham akan sujud syukur.
§  Peneliti membenarkan kesimpulan dan menambah kesimpulan yang telah disebutkan
§  Berdoa dan salam penutup

Pertemuan II
I.       Tahap Awal
§  Salam Pembuka
§  Memberikan review pelajaran terdahulu
§  Mengecek tugas / hafalan yang telah diberikan sebelumnya
II.    Tahap Inti
§  Peneliti mengadakan apersepsi terhadap murid.
§  Peneliti menerangkan materi Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi.
§  Peneliti memberikan instruksi tentang penugasan yang akan dilakukan dan akan dibahas pada pertemuan selanjutnya
III. Tahap Akhir
§  Peneliti menyuruh menyimpulkan penjelasan dari peneliti secara tertulis.
§  Memberikan contoh atau demonstrasi dan motivasi agar senantiasa mudah melaksanakan serta paham akan Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi.
§  Peneliti membenarkan kesimpulan dan menambah kesimpulan yang telah disebutkan
§  Berdoa dan salam penutup

Pertemuan III
I.       Tahap Awal
§  Salam pembuka
§  Mengulas kembali dan mencoba menanyakan materi yang terdahulu.
II.    Tahap Inti
§  Peneliti menjelaskan materi tentang peragaan atau demonstrasi Sujud Syukur, Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi.
§  Melakukan demonstrasi di Mushola sekolahan.
§  Menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
III. Tahap Akhir
§  Peneliti memberikan tugas mencari dalil naqli tentang manfaat Sujud Syukur, Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi.
§  Do’a bersama dan salam penutup

Pertemuan IV
I.         Tahap Awal
§  Salam pembuka
§  Review dan feedback dari materi yang lalu
II.    Tahap inti
§  Peneliti menjelaskan materi tentang dzikir dan do’a
§  Peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk menyebutkan macam-macam dzikir dan do’a
§  Menyimpulkan semua informasi yang telah diterima.

III. Tahap akhir
§  Peneliti memberikan motivasi kepada Peserta Didik agar tetap berusaha untuk terus berlatih bagaimana supaya mereka mampu menguasai materi pendidikan Agama Islam.
§  Memberikan contoh atau demonstrasi dan motivasi agar senantiasa mudah melaksanakan serta paham akan dzikir dan do’a.
§  Peneliti melakukan pamitan untuk perpisahan
§  Do’a bersama dan salam penutup.

Observasi atau pengamatan ini berlangsung pada saat proses demonstrasi yang meliputi:
a.       Aktivitas guru di kelas dalam proses pembelajaran Fiqih dengan menerapkan metode demonstrasi memudahkan guru dalam memahamkan serta memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya, karena setiap selesai praktek peneliti selalu melakukan evaluasi terlebih dahulu sehingga memberi kesempatan siswa untuk menanyakan segala permasalahan yang belum mereka pahami, terutama masalah sujud diluar Sholat. Dengan begitu peneliti (guru praktikan) akan mudah mengetahui sejauh mana pemahaman anak-anak terhadap materi tersebut.
b.      Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat antusias sekali, apalagi dengan diterapkannya metode demonstrasi yang dilanjutkan dengan tanya jawab sebagai evaluasi bagi mereka. Dengan demikian kelas menjadi aktif dan tidak vakum.


Dari pelaksanaan metode demonstrasi yang dikembangkan diperoleh kekurangan dan kelebihan antara lain:
a.       Kekurangan
1.      Siswa belum terbiasa dengan metode demonstrasi.
2.      Siswa masih malu untuk praktek di dalam pelajaran Fiqih.
b.      Kelebihan
1.      Lebih mudah memahami mata pelajaran Fiqih.
2.      Lebih praktis dalam belajar.

C.    Siklus Penelitian

1.      Siklus Pertama

a.   Rencana Tindakan Siklus I
Sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan optimal, peneliti menerapkan metode demonstrasi sebagai metode yang dapat melibatkan antara guru dan siswa dan dapat berperan aktif dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Karena jika hanya menggunakan metode-metode klasik seperti metode ceramah ataupun yang lainnya dirasakan kurang tepat jika diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas VIII B.
Siklus ini terdiri dari satu pokok bahasan, yaitu bab Sujud diluar sholat (2 X 40 menit dengan 4 kali pertemuan). Sebelum pelaksanaan metode demonstrasi pada siklus I, peneliti melakukan perencanaan melalui beberapa tahap persiapan yaitu:
a)    Membuat rencana pembelajaran. 
b)   Membagi materi BAB I (Sujud diluar sholat) menjadi 3 bagian, yaitu:
1)        Sujud syukur
2)        Sujud tilawah
3)        Sujud sahwi
4)        Test formatif
c)    Peneliti membagai siswa kelas VIII B, menjadi 13 kelompok sekaligus memberi tugas masing-masing kelompok dengan cara menggunakan metode observasi.
d)   Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambil alat observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung.
b.        Pelaksanaan Siklus I
Setelah diputuskan menggunakan metode demonstrasi siswa kelas VIII B maka tahapan pembelajaran sesuai dengan tahapan dalam metode demonstrasi. Adapun penelitian ini mulai dilaksanakan pada tanggal 09 Agustus 2007 yang proses pembelajarannya berlangsung selama 2 X 40 menit, yang meliputi:
Pertemuan I : 2 X 40 menit
1.   Tahap Awal
a.    Salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)
b.   Membaca Al-Qur’an sesuai dengan topik bahasan.
c.    Presensi dan memberikan apersepsi kepada siswa.
2.   Tahap Inti
Pre Activity
a.    Peneliti/ guru memberikan stimulus materi BAB I (Shalat- Sujud diluar sholat).
b.    Peneliti/ guru membagi siswa menjadi 5 kelompok
c.    Peneliti/ guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok. Peneliti / guru memberikan instruksi untuk membaca dan menghafal lafazd dalam sujud syukur serta menulisnya dalam waktu beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan praktek yang disesuaikan dengan materi BAB I serta mempresentasikannya.
d.   Peneliti/ guru mengatur jalannya demonstrasi.
e.    Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun yang lainnya.
3.      Penutup
a.    Peneliti/ guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama demonstrasi.
b.   Peneliti/ guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan yang ada.
4.      Tahap Akhir
a.   Peneliti/ guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
b.   Peneliti/ guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih meningkatkan belajarnya.
c.   Peneliti/ guru memberikan informasi mengenai bahasan selanjutnya.
d.  Peneliti/ guru memberi tugas untuk menulis kembali lafadz sujud syukur.
e.   Peneliti/ guru menutup pertemuan / salam penutup.
Pertemuan II : 4 X 40 menit
1.    Tahap Awal
a.   Salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)
b.   Membaca Al-Qur’an sesuai dengan topik bahasan.
c.   Membaca do’a shalat dhuha.
d.  Presensi siswa.
e.   Peneliti/ guru mengadakan tes untuk hafalan siswa.
f.    Peneliti/ guru menjelaskan secara singkat kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar.
2.    Tahap Inti
Whilst Activity
a.        Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang belum presentasi.
b.        Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun yang lainnya.
c.        Peneliti/ guru membuka session untuk tanya jawab dengan para siswa.
d.       Peneliti/ guru mengatu jalannya diskusi.
Post Activity
a.        Peneliti/ guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan yang ada.
b.        Peneliti/ guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama proses belajar-mengajar.
c.        Peneliti/ guru menjelaskan secara detail materi BAB I.
3.    Tahap Akhir
a.        Peneliti/ guru memberi kesempatan kepada siswa untuk betanya.
b.        Peneliti/ guru menyuruh kepada siswa untuk mempelajari materi selanjutnya
c.        Peneliti/ guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih meningkatkan belajarnya.
d.       Peneliti/ guru menutup pertemuan / salam penutup.
c.    Observasi Siklus I
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti di sini selain bertindak sebagai guru, peneliti juga bertindak sebagai observer yang mencatat lembar pengamatan pada lembar observasi prilaku siswa. Hasil pengamatan pada tahap I, kegiatan siswa sudah cukup bagus, siswa terlihat lebih antusias dalam memperhatikan pelajaran, karena pelajaran yang didapatkan akan lebih menyenangkan dari biasanya.
Memasuki tahapan II, siswa lebih antusias dan lebih aktif dalam belajarnya, hal ini terlihat dari kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Mayoritas siswa dapat membaca do’a sholat dhuha serta bersemangat dalam mendemonstrasikannya. Namun ada sebagian kecil siswa yang sedikit dapat membaca bacaan do’a sholat dhuha dan siswa sangat aktif untuk bertanya.
Setelah siswa mendapatkan metode demonstrasi, siswa diberi soal test formatif untuk mengetahui tingkat kefahaman siswa dalam menerima pelajaran yang telah disampaikan. (lampiran nilai)
d.   Refeleksi Siklus I
Tujuan peneliti menerapkan metode demonstrasi semula adalah untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, agar metode-metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat dirasakan efektif oleh siswa. Khususnya pada kelas VIII B MTsN Bumi Mulya, yang mana hal ini tidak terlepas dari kebiasaan siswa dalam belajar yang dialaminya selama ini. Untuk menyikapi kenyataan diatas, maka diambil langkah-langkah:
1)     Memperhatikan peningkatan siswa yang berminat menulis lafal-lafal apapun (Al-Qur’an, Al-Hadits) serta hafalan bacaan-bacaannya, maka perlu diberikan metode demonstrasi yang lebih efektif dan efisien, yaitu dimulai dengan tahapan demonstrasi untuk membaca terlebih dahulu.
2)     Sebagian kecil siswa yang kurang hafal bacaan-bacaan dzikir dan do’a masih merasa kesulitan untuk membaca, menulis, maka harus diberikan waktu tersendiri untuk melakukan demonstrasi.
a.      Rencana Tindakan Siklus II
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran, peneliti memilih menggunakan metodr demonstrasi yang nantinya akan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Sebelum pelaksanaan metode demonstrasi pada siklus II, peneliti melakukan perencanaan melalui beberapa tahap persiapan yaitu:
a)    Membuat rencana pembelajaran.
b)   Membagi materi BAB III (Zikir dan Do’a) menjadi 5 bagian, yaitu:
1)     Pengertian, dan fungsi zikir.
2)  Adab, dan lafal zikir.
3)  Pengertian, dan fungsi do’a.
4)  Kedudukan, dan adab berdo’a.
5)  Fadilat zikir dan do’a.
c)         Peneliti/ guru membagai siswa kelas II-1 menjadi 5 kelompok sekaligus memberi tugas masing-masing kelompok.
d)        Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambila alat observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung.           
b.   Pelaksanaan Siklus II
Dengan tetap menggunakan metode demonstrasi maka tahapan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertemuan I : 2 X 40 menit
1.    Tahap Awal
a.    Salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)
b.   Mebaca Al-Qur’an sesuai dengan topik bahasan..
c.    Membaca do’a shalat dhuha.
d.   Presensi siswa.
e.    Peneliti/ guru mengadakan tes untuk hafalan siswa.
f.      Peneliti/ guru menjeaskan secara singkat kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar.
2.    Tahap Inti
Pre Activity
a.         Peneliti/ guru memberikan stimulus materi BAB II (Zikir dan Do’a)
b.        Peneliti/ guru membagi siswa menjadi 5 kelompok.
c.         Peneliti/ guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok.
Whilst Activity
a.       Peneliti/ guru memberikan instruksi untuk membaca dan menghafal lafal-lafal zikir dan do’a dalam waktu beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang disesuaikan dengan materi BAB II serta mempresentasikannya.
b.       Peneliti/ guru mengatur jalannya diskusi.
c.       Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun yang lainnya.

Post Activity
a.      Peneliti/ guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama proses belajar-mengajar.
b.     Peneliti/ guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan yang ada.
3.    Tahap Akhir
a.         Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
b.        Peneliti/ guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih meningkatkan belajarnya.
c.         Peneliti/ guru memberikan informasi mengenai bahasan selanjutnya.
d.        Peneliti/ guru memberikan tugas untuk menulis kembali bacaan-bacaan zikir dan do’a yang ada di buku paket.
e.         Peneliti/ guru menutup pertemuan/ salam penutup.
Pertemuan II : 2 X 40 menit
1.        Tahap Awal
a.           Salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)
b.           Membaca Al-Qur’an sesuai dengan topik bahasan.
c.           Membaca do’a shalat dhuha.
d.          Presensi siswa.
e.           Peneliti/ guru mengadakan tes untuk hafalan siswa.
f.            Peneliti/ guru menjelaskan secara singkat kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar.
2.        Tahap Inti
Pre Activity
Peneliti/ guru memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar materi sebelumnya.
Whilst Activity
a.      Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang belum presentasi.
b.     Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun yang lainnya.
c.      Peneliti/ guru membuka session untuk tanya jawab dengan para siswa.
Post Activity
a.      Peneliti/ guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan yang ada.
b.   Peneliti/ gruru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama proses belajar-mengajar.
c.         Peneliti/ guru menjelaskan secara detail materi BAB II.
3.        Tahap Akhir
a)    Peneliti/ guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
b)   Peneliti/ guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih meningkatkan belajarnya.
c)    Peneliti/ guru menutup pertemuan/ salam penutup.
c.    Observasi Siklus II
Setelah diadakan perbaikan-perbaikan terhadap hasil yang didapat pada siklus I. kegiatan siswa dalam proses belajar-mengajar lebih bagus lagi, karena ada kemajuan bagi kelompok yang belum presentasi. Dari hasil pengamatan, diperoleh bahwa siswa cukup antusias dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar, dan siswa bertambah aktif untuk bertanya. Dan juga siswa mengalami peningkatan dalam ketepatan dan kecepatan menghafal lafal-lafal Al-Qur’an/ Al-Hadits.
Dalam peningkatan prestasi belajar siswa yang merupakan hasil akhir dari pembelajaran metode demonstrasi, yaitu dapat dilihat pada hasil nilai akhir ulangan harian siswa.
d.   Refleksi Siklus II
Dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dengan menggunakan metode demonstrasi, maka tujuan pembelajaran yaitu untuk dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dan siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam proses belajar-mengajar.
Dari hasil observasi pada siklus II, maka langkah yang akan diambil:
a.        Pemahaman dan ketaatan siswa menunjukkan bahwa metode demonstrasi harus terus diterapkan kepada siswa untuk lebih mudah dimengerti secara mendalam makna yang terkandung dalam materi yang disampaikan.
b.       Menjaga agar kualitas belajar yang sudah berjalan berkembang lebih baik dan tetap terpelihara.
1.      Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang lebih akurat, maka peneliti melakukan perekaman data adapun teknik yang dilakukan adalah dengan membuat catatan berdasakan perkembangan siswa setelah pembelajaran dengan metode Demonstrasi
Sedangkan untuk mengetahui perkembangan siswa dan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode Demonstrasi, terhadap metode belajar siswa maka, sebelum melanjutkan materi, peneliti memberikan waktu 10-15 menit untuk tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan sehingga hal ini memudahkan peneliti memahami efektivitas penggunaan metode Demonstrasi dan Tanya jawab terhadap pengajaran Fiqih.
Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa cara/teknik pengumpulan data selama proses penelitian yaitu:
1.      Obeservasi
Observasi/pengamatan ini dilaksanakan oleh peneliti ketika peneliti mengajar di kelas, dengan menggunakan metode Demonstrasi dan Tanya jawab. Sehingga peneliti memperoleh gambaran suasana kelas dan peniliti dapat menentukan metode Demonstrasi dan Tanya jawabyang lebih baik pada pertmuan berikutnya.

2.      Interview/wawancara
Menurut Suharsimi Arikunto “Metode interview sering disebut juga dengan wawancara/kuesioner lesan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara” (Suharsimi Arikunto, 1991:126)
3.      Pengamatan partisipatif
Cara ini digunakan peneliti agar data yang diinginkan dapat diperoleh sesuai dengan yang dimaksud peneliti. Partisipatif maksudnya adalah peneliti terlibat langsung dan aktif dalam mengumpulkan data yang diinginkan. Kadang-kadang peneliti juga menguraikan obyek yang diteliti untuk melaksanakan tindakan yang mengarah pada data yang ingin diperoleh peneliti.

2.      Indikator Kinerja
Penelitian yang dilaksanakan 6 kali pertemuan sudah cukup digunakan untuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini mengambil topik tentang “Penerapan metode Demonstrasi dalam peembelajaran Fiqih guna meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya” maksudnya adalah dengan menggunakan metode Demonstrasi dan Tanya jawab dalam proses belajar mengajar siswa akan lebih giat belajar baik belajar di sekolah ataupun belajar di rumah. Serta bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau sebaliknya, siswa akan malas dan tidak bersemangat. Di sini indikator yang ditentukan selama penelitian menerapkan metode Demonstrasi ini adalah bahwa sebagian besar siswa memperhatikan dengan sungguh-sungguh karena mereka ingin menjawab pertanyaan yang akan peneliti ajukan. setelah penjelasan materi selesai dan mereka juga belajar di rumah. Itu terlihat ketika peneliti memberikan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.




HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Seperti yang telah dijelaskan penulis pada pembahasan sebelumnya, Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di MTsN Bumi Mulya Bumi Mulyayang berada di Jl. Sidorejo No.55 Singosari Bumi Mulya, dimulai tanggal 27 Juli – 12 September 2007. Penelitian ini ditujukan untuk siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya dalam rangka peningkatan keberhasilan pembelajaran Fiqih melalui metode Demonstrasi dan Tanya jawab
Penulis melalukan penelitian berdasarkan pengamatan di kelas selama proses pengajaran berlangsung. Penerapan metode Demonstrasi dan Tanya jawab ini menyebabkan siswa tidak jenuh di dalam kelas, mereka merasakan bahwa mempelajari Fiqih adalah sesuatu yang mengasyikkan.
Penelitian yang telah dilakukan di dalam kelas mengenai metode ini menunjukkan bahwa para peserta didik memperoleh kemajuan secara statistik di dalam "Pelafalan dan Kebiasaan berFiqih" dan dalam memahami ujaran-ujaran baru. Generalisasi hasil kemajuan dimaksud berlaku bagi siswa kelas VIII B khususnya sebagai obyek penelitian dan bagi seluruh siswa-siswi MTsN Bumi Mulyaumumnya sebagai pelengkap data penelitian.
Untuk mengaplikasikan metode Demonstrasi dan Tanya jawab ini, penulis menerapkannya di awal pelajaran. Penulis berusaha untuk membuka pelajaran dengan membacakan materi Iman kepada rasul Allah terlebih dahulu, agar siswa terlatih dalam membaca materi Fiqih dengan baik dan benar. Hal ini terbukti dengan lembar pengamatan penulis yang telah disajikan dalam pembahasan tentang Analisis dan Refleksi. Mereka sebagian besar merespon kegiatan guru dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan dan latihan untuk mendemostrasikan materi Iman kepada rasul Allah di depan kelas, selain itu mereka juga merasakan bahwa Fiqih itu mudah dan bisa dipelajari kapan pun dan di mana pun.
Selain itu siswa juga mempunyai semangat belajar keagamaan khususnya Fiqih. Dengan adanya penelitian tentang penerapan metode Demonstrasi dan Tanya jawab ini diharapkan bagi guru mata pelajaran Fiqih untuk berusaha mengadakan variasi pembelajaran Fiqih di kelas. Salah satu teknis pemecahannya adalah dengan menerapkan metode Demonstrasi dan Tanya jawab pada pembelajaran Fiqih. Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran digunakan sebagai alat komunikasi untuk berdakwah, Fiqih diajarkan atau masuk sebagai kurikulum sekolah pada tingkat sekolah dasar (MI atau Madrasah Ibtidaiyah) yang selanjutnya diteruskan pada tingkat pertama dan tingkat menengah. Meskipun Fiqih ini telah diajarkan sejak dini, tetapi hasil dari pembelajaran tersebut belum bisa maksimal dengan hasil yang sangat memuaskan. Beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran Fiqih masih terus dicoba dan dirancang dengan sedemikian bagusnya untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus. Untuk memecahkan masalah pembelajaran demikian, perlu dilakukan beberapa upaya, antara lain berupa penerapan strategi pembelajaran atau penggunaan metode pembelajaran yang mampu mengoptimalkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran secara menyeluruh.
Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Joko Tri Prasetya dalam bukunya SBM “srtategi belejar mengajar”, menyebut bahwa metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh seorang guru atau instruktur. Macam-macam metode mengajar adalah metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode resitasi, metode demonstrasi dan eksperimen, metode kerja kelompok, metode sosio drama dan bermain peran, metode karya wisata, metode belajar beregu dan metode proyek. Sedangkan dalam pembelajaran Fiqih materi yang diajarkan adalah mencakup banyak aspek, antara lain : Rukun Islam, Rukun Iman, Thaharah, Fiqih, Qur’an Hadits,dsb.
Disamping yang telah disebutkan diatas, dalam pembelajaran Fiqih memerlukan metode yang bisa menunjang keberhasilan pelajaran. Metode mengajar yang telah disebutkan dalam buku strategi belajar mengajar ada 10 (sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan).
Salah satu metode diatas (dan dapat diterapkan dalam pembelajaran Fiqih) adalah metode demonstrasi dan Tanya Jawab. Yang dimaksud dengan metode demonstrasi yaitu metode pengajaran dimana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari pada yang diketahui.
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa sebenarnya metode ini telah diterapkan oleh sebagian besar lembaga pendidikan (sekolah) pada mata pelajaran lain yang membutuhkan adanya praktek secara langsung. Hal ini dimaksudkan sebagai praktek atau apresiasi ketrampilan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan diakui atau tidak, metode ini sedikit banyak memberi pengaruh positif terhadap kemampuan kongnitif siswa. Mengingat hal tersebut, penerapan metode Demonstrasi dan Tanya jawab ini adalah merupakan metode yang baik diterapkan pada siswa kelas 1 (satu) sebagai pengalaman yang melibatkan pribadi siswa, sebab dan selanjutnya dibelajarkan pada kelas diatasnya.
Sekolah menengah pertama Muhammadiyah 2 adalah merupakan sekolah yang menyebutkan Fiqih dalam daftar kurikulum dan klasifikasikan sebagai program diklat normatif dan adaptif. Sekolah ini mengharapkan kelancaran dan kreatifitas siswanya dalam belajar Fiqih yang baik dan benar. Hal ini telah ditempuh dengan beberapa metode yang diterapkan dan metode tersebut tidak menyimpang ajaran agama Islam yang ada dalam Fiqih. Untuk itu penelitian tindakan kelas PTK yang akan dilaksanakan pada siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulyamengarah pada pembelajaran Fiqih dengan menggunakan metode demonstrasi dan Tanya jawab. Dengan tujuan untuk mempelajari dan mengetahui kesesuaian metode dalam pembelajaran Fiqih yang dirasa dapat memberi konstribusi banyak terhadap siswa dan guru.
Guru hendaknya memperkenalkan struktur-struktur baru secara lisan maupun tertulis, dengan memakai media yang efektif. Selain itu juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mendengar struktur tersebut berulang kali dan meminta kembali untuk mengulanginya berkali-kali supaya mereka cepat memahami materi Fiqih.
Buku berfungsi sebagai media untuk mempermudah tugas guru, bukan sebagai guru karena buku tidak dapat berbicara, mendengar, mengoreksi, atau memberi dorongan. Instruksi haruslah berasal dari guru dan bukan dari sebuah buku. Oleh karena itu, sebaiknya buku teks hanya dijadikan sebagai pelengkap. Adapun pengenalan terhadap materi yang baru (materi lisan) hendaklah berasal dari guru itu sendiri.
Siswa harus mempunyai semangat yang meluap-luap di dalam belajar agama khususnya Fiqih hingga KMUP (kemauan, minat, usaha, dan perhatian) bisa tercipta pada diri mereka. Mereka harus memiliki keberanian untuk bertanya dan maju kedepan kelas tanpa malu. Hendaklah seorang guru menyampaikan kepada mereka keuntungan atau kelebihan orang yang mengetahui Fiqih.
Pujian-pujian juga akan mendorong mereka maju selangkah di dalam usaha belajar mereka. Bila keinginan yang riil untuk belajar Fiqih mulai bersemi pada diri mereka, maka separuh dari tugas guru sebagai pengajar dapat dianggap selesai.
Tujuan dari penciptaan suasana segar di kelas adalah agar perasaan tertekan yang ada pada diri siswa dapat hilang. Tawa dan senyum seorang guru dapat dianggap sebagai pembantu pembangkit suasana yang menyenangkan. Begitu pula cerita-cerita lucon dalam Fiqih, anekdot-anekdot, permainan, dan sebagainya, kesemuanya dapat memecah kebekuan di dalam belajar Fiqih.
Kiranya bahasan yang telah dikemukakan di atas dapat merupakan suatu hasil penelitian yang sangat berharga. Terbukti dengan adanya penerapan metode Demonstrasi dan Tanya jawab terhadap siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulya, proses pembelajaran Fiqih di sekolah ini mengalami kemajuan dan keberhasilan yang diinginkan.













BAB V

PENUTUP


A.   Kesimpulan


Setelah penulis menjelaskan berbagai permasalahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar, maka penerapan metode Demonstrasi dan Tanya Jawab terhadap siswa kelas VIII B MTsN Bumi Mulyasudah termasuk dalam kategori berhasil. Terbukti mereka sangat antusias dan semangat dalam mengikuti pelajaran Fiqih dibandingkan sebelumnya, yakni sebelum adanya penerapan metode Demonstrasi dan Tanya Jawab. Siswa menjadi betah di kelas, suasana kelas menyenangkan dan kelihatan hidup sehingga mereka sudah tidak beranggapan lagi bahwa Fiqih itu sebagai momok dalam proses belajar mengajar.
Metode Demonstrasi dan Tanya Jawab yaitu cara menyajikan bahan pelajaran Fiqih melalui Ceramah dan Tanya jawab, dalam percakapan itu dapat terjadi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid, sambil menambah dan terus memperkaya perbendaharaan ilmu agama.

B.     Saran


Penulis mempunyai beberapa solusi dalam rangka meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari Fiqih di MTsN Bumi Mulya Seorang guru yang baik harus selalu mempersiapkan materi / topik bahasan terlebih dulu sebelum pelajaran dimulai, cara-cara dan teknik serta taktik yang akan diberikan hendaknya senantiasa dipikirkan.


Adapun saran-saran tersebut ialah :
  1. Dalam menyampaikan materi usahakan menggunakan metode yang menarik seperti : Demonstrasi, Tanya jawab, Berbicara Fiqih di dalam kelas, Memberikan banyak tamrinat, Melatih siswa bertanya dalam Fiqih, Memberikan semangat/dorongan untuk belajar Fiqih, Menciptakan suasana yang menyenangkan.
  2. Diharapkan untuk menambah buku-buku Fiqih di perpustakaan agar siswa gemar membaca dan memahami ajaran agama Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Perlu kiranya sesekali diadakan study banding sambil refreshing untuk belajar Fiqih di luar kelas, bahkan di luar sekolah, seperti : mengadakan kunjungan ke Pondok-pondok Pesantren yang mempunyai kualitas tinggi dalam pembelajaran Fiqih.



DAFTAR PUSTAKA


Arsyad, Azhar, Prof., Dr., Fiqih dan Metode Pengajarannya (Beberapa Pokok Pikiran). Pustaka Pelajar. Makasar. April. 2002.
Arikunto, Suharsimi, Prof., Dr., Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) Edisi Revisi V. Jakarta. Rineka Cipta. 2002.
Djamarah, Bahri, Syaiful, Drs., dkk. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta : 2002.
 I.L. Pasaribu, dkk, 1986. Detaktik dan Metodik. Tarsito, Bandung.
Imansjah Alipandie, 1984. Detaktik Metode Pendidikan Umum. Usaha Nasional, Surabaya.
Moh. Uzer Usman, 1992. Menjadi Guru Profesional. Remaja Rosda Karya, Bandung
Roestyah, 1991. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta
S. Nasution, 1986. Detaktik Azas-Azas Belajar. Jemmars, Bandung.
Sardiman, 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali, Jakarta
Yusuf, Tayar, Drs, H., dkk., Metodologi Pengajaran Agama dan Fiqih. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. 1997.

3 komentar:

  1. Oke..... tambah lagi ntar dibaca

    BalasHapus
  2. izin copas mas.....
    semoga mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. amien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sumonggo, tapi belum bagus. maklum masih amatiran.

      Hapus

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Untuk Perbaikan Blog Ini