السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI SEMOGA BERMANFAAT

Rabu, 30 Januari 2013

 
FRUSTASI DAN STRES
Oleh: Muhsinun

Manusia dalam hidupnya selalu dihadapkan dengan persoalan kebutuhan hidup baik yang primer (Pokok) maupun yang skunder (pelengkap) bahkan tersier (mewah), yang seringkali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak segera terpenuhi yang kadang kala menimbulkan masalah bagi seseorang. Kadang kala seseorang juga dihadapkan dengan berbagai permasalahan, kepentingan dan kesempatan yang berbeda datang  pada saat yang bersamaan. Inilah yang disebut dengan persoalan/masalah.
Masalah dan persoalam hidup tidak akan berhenti sepanjang hidup dan kehidupan, ia akan terus datang silih berganti menunggu penyelesaian. Hal ini menjadintolak ukur kedewasaan manusia dalam memecahkan, menanggapi, menghadapi dan memecahkan permasalahan yang ada, seberapa besar kemampuan seseorang bertindak arif, bijak dan baiknya dia menyelesaikan persoalan yang muncul tersebut.


Namun tidak sedikit yang tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan baik. Ada yang memilih menunda atau mengabaikannya, padahal sebenarnya masalah sudah menanti untuk diselesaikan. Ada juga yang menghindari masalah. Semuanya membawa dampak kepada empunya persoalan. Bila berlarut-larut akan menimbulkan masalah baru yang bahkan bisa mengganggu kesejahteraan individu bersangkutan yang bersangkutan dan lingkungannya.
A.    FRUSTASI
Bayangkan anda mendapat nilai atau penghargaan yang tidak sesuai dengan yang anda harapkan, padahal anda sudah berupaya sebaik mungkin. Anda mendapatkan nilai “D” pada ujian akhir, atau Bos anda memarahi anda dengan pekerjaan yang sudah anda perbuat dengan sebai-baiknya. Ini tidak terjadi sekali saja, tetapi telah beberapa kali. Anda menjadi kesal bahkan marah atau muncul perasaan-perasaan lainya yang muncul.maam harinya anda tidak bisa tidur. Segudang pemikiran muncul, berputar-putar silih berganti, mulai dari mencari sebab-sebab kegagalan, upaya-upaya untuk mencari jalan lain supaya lebih berhasil sampai pada pemikiran-pemikiran buruk, seperti dosen atau bos anda tidak menyukai, sehingga anda memilih jalan untuk menyontek atau memilih jalan pintas dan lain sebagainya. Anda teertidur, dan bangun dengan badan yang kurang enak, dan teringan akan kegagalan yang dialami.
Itulah frustasi yang terjadi karena antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan angan-angan diri seseorang. Frustasi ini kadang kala menimbulkan efek yang buruk bagi diri dan orang lain, sebagai akibat ketidak sesuaian antara jiwa dan kenyataan yang terjadi. Misalnya; dengan frustasi aia akan gampang marah, padahal seharusnya ia tidak marah pada keadaan yang stabil/normal, maka beakibat buruk bagi dirinya yaitu bisa menyebabkan hipertensi, bagi orang lain yang terkena marah akan ikut-ikutan marah bahkan bisa terjadi perselisihan.
Banyak penyebab frustasi yang terjadi, yang kadang kala datang dari diri sendiri, keluarga maupun lingkungan. Tidak bisa manggapai harapan, itu juga penyebab yang datang dari dalam dirinya sendiri, bosan dengan keadaan di rumah, bagi ibu rumah tangga misalnya bosan dengan selalu mengurus anak-anaknya, terganggu dengan bisingnya musik tetangga yang mengganggu konsentrasi dan ketenangan, juga bisa menyebabkan frustasi.
Dari beberapa pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa ada dua sisi, sisi pertama adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan. Sisi kedua, perasaan dan emosi yang menyertai fakta tersebut. Perasaan dan emosi yang muncul adalah kesal, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang  mungkin muncul, yang mengakibatkan munculnya gejala-gejala ketubuhan yang disebut sebagai psikosomatis. Frustasi ini bisa mangakibatkan seseorang stress atau tekanan. Bila tidak dikelola dengan baik, maka akan timbul stres atau tekanan akan berakibat merugikan bagi individu.


B.     STRES
1.      Pengertian Stres
Buku-buku kedokteran menyatakan bahwa 50-70% penyakt fisik sebenarnya disebabkan oleh stres. Paling tidak stres menjadi faktor yang membuat seseorang lebih mudah atau sebaliknya lebih sulit diserang penyakit. Msalnya, dalam sebuah penelitian kedokteran, penyakit kanker juga disebabkan oleh stres yang berkepanjangan.
Secara latah kadang kita mengatakan stress pada orang lain bahkan mengatakan pada dirinya sendiri tanpa mengetahui dengan jelas apa arti stres tersebut. Kita beranggapan bahwa stres itu selalu negatif, padahal stres adalah: akibat/pengaruh dari interaksi (timbal-balik) antara rangsangan lingkungan dan respon individu.
Dilihat dari pengertian tersebut, kita bisa berfikir bahwa; kadang kala kita mebutuhkan stres. Ya, betapa tidak? Kita perlu stres untuk memancing semangat untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Stres optimal akan membawa kita pada semangat akan meraih cita-cita tersebut. Berikut hubungan stres dan produktifitas seseorangbisa digambarkan pada grafik di bawah ini:



                       STRES              STRES                STRES
                  RENDAH             OPTIMAL           TINGGI  

Dari grafik di atas, bahwa stres yang rendah akan mengakibatkan kebosanan, motifasi menjadi rendah dan lesu. Stres optimal akan membuat motivasi tinggi, bergairah, daya tangkap dan prestasi tinggi. Stres tinggi  mengakibatkan insomnia; lekas marah, meningkatnya kesalahan, kebimbangan dan lain-lain.

2.       Gejala dan Akibat Stres
Gejala atau akibat stres kali ini akan dibahas gejala/akibat yang negatif, karena sering mengganggu kehidupan manusia. Sudah menjadi salah kaprah dalam kehidupan sehari-hari, bahwasanya stres merupakan sesuatu yang negatif secara keseluruhan. Sehingga setiap orang mengatakan stres jika keadaan seseorang sedang tidak normal, bahkan jika seseorang mengalami gangguan kejiwaannya.
Cok (Gibson, dkk., 1990) ada lima kategori akibat stres yaitu:
-          Akibat subjektif, yaitu akibat yang didasarkan secara pribadi, meliputi kegelisahan, agresi, kelesuan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran, harga diri rendah dan perasaan terpencil.
-          Akibat perilaku, yaitu akibat yang mudah dilihat karena bebrbentuk perilaku-perilaku tertentu, meliputi mudah terkena kecelakaan, penyalah gunaan obat, peledakan emosi, berperilaku impulsif, tertawa gelisah.
-          Akibat kognitif, akibat yang mempengaruhi proses berpikir, meliputi tidak mampu mengambil keputusan yang sehat, kurang daat berkonsenterasi, tidak dapat memutuskan perhatian dalam jangka waktu yang lama, sangat peka terhadap kecaman dan mengalami rintangan mental.
-          Akibat fisiologis, yaitu akibat-akibat yang berhubungan dengan fungsi dan kerja alat-alat tubuh, yaitu tingkat darah gula meningkat, denyut jantung/tekanan darah naik, mulut kering, berkeringat, pupil mata membesar, sebentar-sebentar panas dan dingin.
-          Akibat keorganisasian, yaitu akibat yang tampak dalam tempat kerja, meliputi absen, produktivitas rendah, mengansingkan diri dari teman kerja, ketidak puasan kerja, menurunnya keterikatan dan loyalitas terhadap organisasi.
3.      Terjadinya Stres
Terjadinya stres tergantung pada stresor (yang menyebabkan stres) dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Lingkungan fisik bisa menjadi stresor, panas, digin, perubahan cuaca, terlalu terang, gelap, bising, sunyi, folusi merupakan sumber potensial terjadinya stres. Kepadatan penduduk, lingkungan kumuh, cenderung lebih meledak dibandingkan penduduk yang tinggal di yang kurang padat.
Usia merupakan stresor yang alami datangnya, dan merupakan faktor yang dominan terjadi pada setiap individu yang kadangkala sangat mengganggu. Usia dewasa biassanya mempunyai kemampuan mengontrol stres dibanding dengan usia remaja atau usia lanjut. Dengan kata lain dewasa mempunya toleransi yang lebih baik terhadap stresor yang datang pada dirinya.
Wanita dianggap lebih mampu menghadapi stresor, karena wanita memiliki kelenturan baik fisik maupun psikis, sehingga mampu dan leih toleran terhadap stres yang lebih baik.
Pendidikan, juga mempengaruhi seseorang dalam menyikapi stresor yang ada. Semakin baik tingkat pendidikannya mempunyai kecenderungan semakin baik juga dalam menyikapi stresor, begitu sebaliknya.
Kesehatan, kesehatan fisik seseorang merupakan salah satu faktor dalam menyikapi stresor. Badan yang sehat akan cenderung mudah dalam mengontrol stresor, sebaliknya badan yang kurang sehat akan lebih rawan dalam mengontrol stresor.
Faktor kepribadian menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres, orang yang mempunyai kepribadian tipe A akan cenderung lebih mudah terkena stres, orang tipe B akan lebih tahan menghadapi stres. Harga diri rendah akan lebih mudah membuat efak stres lebih besar dibanding arang yang mempunyai harga diri tinggi.
Toleransi tehadap sesuatu yang bersifat samar juga menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang yang kaku dan memandang segala sesuatu sebagai hitah dan putih biasanya lebih mudah terkena stres dari pada orang yang bisa menerima adanya warna abu-abu dalam kehidupan.
4.      Sindrom Adabtasi Umum (General Adaptation Syndrom)
Teori sindrom adaptasi umum ini dikenalan oleh Selye berpendapat bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak perduli apapun jenis stresnya, reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap individu, pertahanan ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga intergritasnya untuk tetap survive. Jika ini berjalan lama maka pertahanan fisiologisnya pun lama yang kadang kala menimbulkan penyakit akibat adaptasi terhadap stres yang cukup lama.
Fase awal terjadinya stres disebut fase alarm, yaitu peringatan bahwa ada stress yang memerlukan penanganan. Pada fase ini stresornya terlalu kuat sehingga kadang bisa membahayakan jiwa. Sedang fase berikutnya adalah  fase resistensi dimana stresor yang terus-menerus maka tingkat resistensinya semakin kuat untuk melakukan adaptasi terhadap stresor, tahap ini sudah berangsur normal walaupun stres masih ada. Jika stresor masih berkelanjutan, maka mau tak mau tanda-tanda tubuh muncul kembali seperti dalam fase alarm, yang akhirnya energi yang digunakan habis dan tidak mampu lagi melakukan adaptasi,  fase ini disebut  fase kelelahan.
5.      Stres Pada Wanita
Faktor bilogis yang berbeda dengan pria, wanita mengalami stres yang tidak dialami pria, misalnya wanita memiliki stres berupa amenorhea (berhenti haid), pasca persalinan, keseburan dan lain-lain yang dialami pria pun dialami pula oleh wanita. Walaupun stres dan serta penyakit wanita lebih banyak, namun pada umumnya wanita mempunyai ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapinya.
6.      Mengatasi Stres
Jika stres telah mempengaruhi fisik bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat dan medikasi diperlukan. Namun obet-obatan tidak efektif untuk mengatasi stres berkepanjangan, ada efek negatif yang ditimbulkan obat-obatan tersebut jika dikonsumsi terus menerus, biaya yang mahal, dan bisa menyebabkan ketergantungan terhadap obat-obatan.
Tehnik menghadapi stres misalnya; Biofeedback yaitu bagian-bagian tubuh yang mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk mengatasinya. Istirahat dan melakukan Olahraga yang teratur juga bisa menanggulangi stres, Relaksasi yaitu tehnik menghilangkan stres dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh yang sering terkena stres, Meditasi yaitu pemusatkan pikiran atau konsentrasi atau menosongkan pikiran ini juga bisa menanggulangi stres karena pikiran menjadi tenang.
Pada dasarnya pencegahan stres bisa dilakukan dengan mengubah pola hidup. Orang yang terlihat lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat, lebih berorientasi pada tantangan dan perubahan serta dapat menguasai kejadan-kejadian dalam kehidupanya dalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres.

2 komentar:

  1. Tips-nya bagus....,
    trimakasih atas ilmunya pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Hanya ini yang bisa saya lakukan si Blog ini. Komentar dan saran sangat dibutuhkan untuk perbaikan blog ini.

      Hapus

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Untuk Perbaikan Blog Ini